INDOGRAF – PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pengatur Beban (UP2B) Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan Desa Wisata Lerep, Kabupaten Semarang, melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Dukungan ini berfokus pada penguatan sektor seni budaya dan ekonomi lokal, terbukti dengan suksesnya pergelaran DWL Culture Show di Semarang yang memukau delegasi mahasiswa internasional.
Acara DWL Culture Show, menampilkan keanggunan tarian lokal dari Sanggar Beksan Nyawiji Desa Lerep. Tarian yang dibawakan mencakup Tari Gugur Gunung, Tari Gandes Luwes, Tari Kreasi Nusantara, dan Tari Bungah Sumringah. Pertunjukan ini disaksikan oleh mahasiswa dari Amerika Serikat, Tiongkok, dan Malaysia yang mengikuti program Summer Course Universitas Diponegoro. Respon takjub dari audiens internasional membuktikan bahwa warisan budaya lokal Lerep memiliki daya tarik global.
Keberhasilan Desa Lerep dalam mempromosikan kekayaan budayanya ini tidak lepas dari dukungan konkret PLN UP2B Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta. Bantuan yang diberikan PLN bersifat holistik, mencakup pelatihan dan pendampingan intensif bagi sanggar seni untuk meningkatkan kualitas pertunjukan, serta penguatan kapasitas Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Lerep dalam aspek manajerial, promosi digital, dan pengelolaan pertunjukan seni yang profesional.
“Kami melihat Desa Lerep sebagai contoh nyata bagaimana budaya, yang merupakan identitas luhur, dapat bertransformasi menjadi energi baru yang vital bagi masyarakat. Tujuan kami tidak hanya sebatas menjaga sebuah tradisi, tetapi juga dapat menggerakkan roda ekonomi lokal secara berkelanjutan,” ungkap General Manager PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban (UIP2B) Jawa, Madura, dan Bali (Jamali), Munawwar Furqan.
Lebih jauh, ia menyampaikan optimisme bahwa program TJSL ini akan memberikan multiplier effect bagi kemandirian ekonomi desa secara berkelanjutan. Ia pun menargetkan agar desa ini kelak menjadi role model atau percontohan nasional bagi pengembangan desa wisata yang sukses memadukan potensi ekonomi dengan pelestarian kearifan local.
Respon positif dari audiens internasional menunjukkan potensi Desa Lerep sebagai jembatan diplomasi budaya. Gemma Guiterrez, salah satu peserta Summer Course asal Amerika Serikat, menyampaikan kekagumannya. Tarian dari Desa Lerep sangat ekspresif dan penuh makna. Respon ini membuktikan bahwa penguatan warisan budaya lokal yang didukung oleh infrastruktur dan manajemen yang baik mampu menjadi daya tarik wisata yang kuat dan berkelas.
Pelestarian budaya di Desa Lerep berjalan beriringan dengan upaya peningkatan kesejahteraan warga. Manajer PLN UP2B Jawa Tengah & D.I Yogyakarta, Rachmat Hidayat, optimis bahwa dukungan PLN menjadikan Desa Lerep semakin mandiri dalam mengelola potensi wisatanya dan mampu berdiri sejajar dengan destinasi kelas dunia lainnya.
Desa Lerep sendiri telah dikenal sebagai salah satu desa wisata unggulan di Jawa Tengah yang menonjolkan konsep kearifan lokal, pelestarian lingkungan, dan tradisi unik. Desa Lerep tidak lagi sekadar tujuan perjalanan, tetapi menjadi ruang perjumpaan lintas budaya yang otentik. Turis mancanegara yang berkunjung kini pulang dengan cerita dan kesan mendalam, sementara masyarakat desa melangkah semakin percaya diri bahwa warisan leluhur mereka memiliki nilai jual dan pengakuan global.
Ke depan, PLN berharap sinergi dengan masyarakat Desa Lerep dapat menjadi contoh praktik baik dalam pengembangan desa wisata berbasis budaya yang berkelanjutan dan mandiri. Semangat kolaborasi ini merupakan bagian dari kontribusi PLN dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin yang berkaitan dengan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8) serta industri, inovasi, dan infrastruktur (SDG 9), yang semuanya didukung oleh energi yang andal.
Dukungan PLN melalui program peningkatan kapasitas terbukti berhasil menyempurnakan potensi budaya yang dimiliki Desa Wisata Lerep. Kesiapan ini menjadi modal krusial bagi desa tersebut untuk bersaing menarik minat wisatawan dari dalam dan luar negeri, serta menargetkan diri sebagai barometer keberhasilan pariwisata berbasis komunitas di tanah air.











