Indograf.com – Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Cirebon Raya menggelar Pelantikan Pengurus dan Seminar Nasional bertema “Konsolidasi Kekuatan Bangsa, Mengawal dan Meneguhkan Asta Cita” di Hotel Patra, Jalan Tuparev, Kabupaten Cirebon, pada Minggu (2/11/2025).
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi IKA PMII Cirebon Raya dalam memperkuat peran strategis alumni PMII sebagai penjaga nilai-nilai kebangsaan serta mitra kritis pemerintah dalam membangun Indonesia yang lebih maju.
Ketua Pelaksana, Dr. Moh. Ali, M.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan ini mencakup tiga agenda utama, yaitu pelantikan pengurus IKA PMII periode 2025–2030, seminar nasional, serta rapat kerja yang dilaksanakan setelahnya.
“IKA PMII menyelenggarakan pelantikan pengurus untuk periode 2025–2030, seminar nasional terkait pasca reformasi 27 tahun untuk Indonesia baru, dan dilanjutkan rapat kerja pengurus” ujar Dr. Ali.
Menurutnya, tema yang diusung memiliki relevansi kuat dengan semangat pergerakan mahasiswa. Asta Cita menjadi simbol komitmen alumni dan kader PMII dalam memperkokoh nilai-nilai kebangsaan, keislaman, dan keindonesiaan.
“Mahasiswa harus selalu memberikan kontribusi kepada negaranya, menjaga dan mengembangkan bangsa melalui inovasi dan berpikir kritis. Jika ada kesalahan dalam kebijakan, mahasiswa wajib memberi kritik yang membangun,” tegasnya.
Dr. Ali juga menyoroti pentingnya literasi digital di era global saat ini. Ia menilai perbedaan pergerakan mahasiswa masa lalu dan sekarang terletak pada kemampuan beradaptasi terhadap teknologi.
“Dulu kekuatan pergerakan ditopang fisik dan loyalitas. Sekarang mahasiswa harus menguasai literasi digital agar tak terjebak pada isu dan disinformasi. Di era ini, mahasiswa dituntut cerdas memilah kebenaran dan tidak anti terhadap teknologi,” jelasnya.
Sementara itu, Eka Elia, anggota Kopri PMII Cirebon, menyampaikan pandangannya sebagai perwakilan generasi muda atau Gen Z. Ia menilai media sosial membawa pengaruh besar terhadap pola gerakan mahasiswa masa kini.
“Kalau dulu kajian dilakukan secara langsung, sekarang banyak dikolaborasikan dengan kajian online. Tapi esensinya tetap sama, kita bergerak untuk perubahan,” ujarnya.
Eka juga menanggapi pandangan negatif masyarakat terhadap pergerakan mahasiswa yang kerap dikambinghitamkan.
“Sering kali opini publik digiring oleh media, padahal mahasiswa turun ke jalan bukan untuk kepentingan pribadi, tapi menyuarakan keresahan masyarakat — seperti isu pelecehan seksual atau infrastruktur rusak. Jadi mahasiswa itu bukan pengganggu, tapi penyambung aspirasi rakyat,” ungkapnya.
Kegiatan pelantikan dan seminar nasional ini diakhiri dengan penegasan komitmen dalam mengawal cita-cita reformasi dan menjaga marwah pergerakan mahasiswa sebagai penggerak perubahan bangsa. ***











