INDOGRAF –Tradisi ngubek empang yang dilakukan masyarakat Kota Depok menjelang Idul Fitri, dan acara lainnya kini didorong naik kelas untuk dijadikan sebagai olahraga tradisional.
Hal ini dilakukan agar tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun ini tidak tergerus zaman, sehingga Kumpulan Orang Orang Depok (KOOD) bersama Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (Portina) berupaya menjadikannya sebagai olahraga tradisional.
Wakil Ketua Portina Kota Depok, Arif Qadarman mengatakan, dirinya sangat mendukungan penuh atas gagasan tersebut.
“Kami sangat mendukung, tradisi ngubek empang ini dijadikan sebagai jenis olahraga tradisional, bahkan harus kita dorong untuk bisa jadi olahraga nasional,” ucapnya.
Nantinya, kegiatan ngubek empang juga akan diperkenalkan kepada anak-anak sekolah agar bisa mencintai tradisi dan beradu ketangkasan.
“Karena ngubek emapng ini bukan hanya melestarikan budaya, tapi harus dijadikan naik kelas sebagai jenis olahraga,” tandasnya.
KOOD dan Pornita Depok mendorong tradisi ngubek empang agar bisa dijadikan sebagai olahraga tradisional.
Namun, saat ini keberadaan empang sudah semakin berkurang, dan tradisi ini juga sudah jarang dijumpai. “Ngubek empang saat ini sudah kami jadikan agenda rutin dalam Lebaran Depok, karena jangan sampai tradisi ini hilang,” terangnya.
Pihaknya juga membuat standar kolam, hingga kedalaman air untuk menuju olahraga resmi. “Ini kan (kolam) panjangnya 6 meter, luasnya 3 meter, lebarnya 3 meter, dengan ada tiga anak tangga dan kedalaman air 80 cm,” ujarnya.
Sementara itu Ketua KOOD, Ahmad Dahlan mengatakan bahwa tradisini ini memang selalu dilakukan masyarakat Betawi Depok menjelang hari raya.
“Menjelang Hari Raya Idul Fitri itu masyarakat Betawi-Depok memang selalu mengadakan tradisi ngubek empang, untuk kebutuhan lauk. Kenapa ngubek empang? Karena banyak dulu empang yang tidak bisa dikeringkan, enggak bisa dibedah (menguras air empang), sehingga masyarakat turun untuk mengubek empang,” tuturnya.
Selain itu, pihaknya juga ingin tradisi ini dijadikan sebagai jenis olahraga tradisional di Kota Depok.
“Kami launching ngubek empang dengan kolam yang lebih kecil, pesertanya pun dibatasi hanya empat orang satu tim dan jumlah ikan dibatasi,” jelasnya
Setiap peserta, hanya mengandalkan tangan kosong dengan berbekal ketangkasan untuk dapat menangkap ikan, dengan durasi 10 menit.
Dahlan menyebut, nantinya pemeneng ditentukan dari banyaknya ikan yang didapatkan, bukan berdasarkan berat ikannya. “Yang kami lihat di sini, ketangkasan setiap peserta, bagaimana menangkap ikan tanpa alat bantu, tangan kosong, durasinya 10 menit, dan pemenangnya adalah yang paling banyak dapat ikan. Bukan berat tapi jumlah yang paling banyak dapat ikan,” ungkapnya. (Adm).






